menu
Logo Lembur Sawah

Ngabungbang Pusaka: Ritual Turun Temurun di Kampung Lembur Sawah

calendar_today 26 Agustus 2026
person Siti Holipah dan M. Farel Fareji
Ngabungbang Pusaka: Ritual Turun Temurun di Kampung Lembur Sawah

(Bogor 15/06/2026) Kampung lembur sawah dikenal dengan tradisi yang masih melekat pada masyarakatnya. Selain adanya tradisi Sedekah bumi, masyarakat lembur sawah juga masih mempertahankan tradisi Ngabungbang pusaka yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid Nabi. Masyarakat setempat khususnya para sesepuh lembur sawah, masih melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk penyucian diri.

Tradisi Ngabungbang Pusaka merupakan warisan budaya yang sarat akan makna spiritual dan sosial. Tradisi ini terkenal khususnya pada masyarakat Sunda atau masyarakat Jawa Barat. Secara etimologi, 'Ngabungbang' berarti 'Mandi Suci' untuk membuang sifat buruk lahir maupun batin. Sedangkan 'Pusaka' umumnya merujuk pada harta benda, barang, atau nilai luhur peninggalan nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun. Pusaka biasanya berbentuk keris, tombak, pedang, kujang, panah, dan lain-lain. Tradisi 'Ngabungbang Pusaka' adalah tradisi yang unik karena memadukan unsur ritual penyucian diri, penghormatan kepada leluhur, dan fungsi sosial sebagai pemersatu masyarakat.

1P9zMvw4c21X9ZqCZMdHvuX7a8xcOF8fhFTFuj6J.jpg

Bapak Encim Yang Sedang Membuat Sawen

Salah satu sesepuh yang mengikuti ritual Ngabungbang pusaka adalah Bapak Karsim (65) atau yang akrab disapa Encim. Ketika kami menghampirinya, ia sedang membuat sawen, yaitu jimat pelindung yang ditancapkan ke sawah sebelum masa tanam dimulai. Bapak encim mempunyai pusaka yang merupakan warisan turun temurun dari keluarganya. Menurut Encim, pusaka di Kampung Lembur Sawah disebut dengan “Pakakas”. Adapun pakakas tersebut digunakan untuk berbagai hal, seperti menjaga bayi yang baru lahir, penangkal hujan, dan keperluan lain dengan tujuan keselamatan.

h5vhqTye0vHgvObzEcOyF5At0LEcKAr63T4GBgZO.jpg

Pusaka Milik Encim

Encim memperlihatkan dua pusaka yang dimilikinya, satu berbentuk seperti keris dan ukurannya lebih besar, yang satunya berukuran lebih kecil dan bentuknya seperti belati atau

pisau. Keduanya dibalut oleh Warangka (sarung) berwarna cokelat tua. Pusaka yang lebih besar, di bagian atasnya atau yang disebut hulu warangka, berbentuk melengkung dan berwarna hitam legam. Sedangkan pusaka yang berukuran kecil, sarungnya dibalut oleh anyaman atau lilitan bahan alami berwarna cokelat kusam dan gagangnya terbuat dari kayu atau tanduk berwarna hitam legam, serta meliuk mirip dengan paruh burung.

Wati (36) anak pertama dari Encim menjelaskan, bahwa ia tidak mempunyai banyak pusaka. Sehingga pusaka satu-satunya yang ia punya, akan dirawat dan diwariskan ke anak-anaknya nanti. Bahkan ketika sedang membangun rumah baru, ia menemukan pusaka seperti keris dan guci. Tetapi karena tertimbun lama, pusaka tersebut sudah lapuk dan tidak bisa dipertahankan lagi. “Sebenarnya gak ada asal-usul yang jelas dari pusaka ini, dulu keluarga kita dikasih pusaka, disuruh buat disimpen sekarang bagian bapak yang ngerawatnya," jelasnya.

Ritual Ngabungbang pusaka di Kampung Lembur Sawah dilaksanakan pada tanggal 14 bulan Rabiul Awal, bertepatan dengan fenomena bulan purnama penuh. Ritual ini dilaksanakan di rumah salah satu warga, yang bernama Ahmad. Sejak dulu, ritual Ngabungbang pusaka tidak hanya diikuti oleh masyarakat Lembur Sawah, tetapi banyak yang datang dari luar kota, seperti Ciamis, Bandung, Sukabumi, dan lain-lain. Namun, seiring berjalannya waktu, ritual Ngabungbang hanya diikuti oleh warga Lembur Sawah saja.

“Dulu mah banyak, orang datang dari mana-mana. Sekarang mah cuma yang disini, warga Lembur Sawah-ada sih, tapi gak banyak.” Tutur Encim.

Sebuah tradisi tentu saja diikuti oleh aturan-aturan yang harus dilakukan. Sama halnya dengan tradisi Ngabungbang pusaka. Pada ritual Ngabungbang pusaka, para warga harus berpuasa terlebih dahulu. Puasa tersebut dikenal dengan puasa putih. Puasa dilakukan seperti biasa yaitu menahan makan dan minum selama sehari penuh dengan niat untuk Ngabungbang pusaka. Puasa tersebut dilaksanakan selama tiga hari, dimulai dari tanggal 12 sampai 14 Rabiul Awal. Adapun pusaka yang akan dimandikan atau bersihkan, akan direndam terlebih dahulu selama satu bulan sebelumnya. Baru di malam hari pada tanggal 14, Ngabungbang pusaka dilakukan dengan menggunakan air kelapa, kemudian dibaluri jeruk nipis, dan minyak misik.

Sepulangnya dari rumah Encim dan Wati, kami pergi menyebrang jalan dan menyusuri jalan setapak untuk melihat bagaimana lingkungan Kampung Lembur Sawah. Semakin jauh kami berjalan, jalannya semakin menyempit. Suara sungai yang mengalir terdengar dari kejauhan. Kami berjalan menyusuri tangga-tangga yang curam dan licin. Di persimpangan jalan, kami dihadapkan pada dua pilihan, berjalan lurus menuju situs atau naik ke rumah panggung. Karena penasaran, kami akhirnya memilih naik ke rumah panggung.

Tangga-tangga curam menyapa kembali dan bentuknya semakin kecil disbanding sebelumnya. Ketika kami sampai di depan rumah panggung, tiba-tiba seorang nenek yang sudah renta menyapa kami. Kami menghampirinya, kemudian memberi salam sebagai bentuk penghormatan. Ia menggelar karpet di depan rumah panggung, serta mengambil segelas air putih dan menyajikannya.

Namanya Sunenti, usinya menginjak 70 tahun. Ia merupakan salah satu warga yang sudah lama tinggal di Kampung Lembur Sawah. Kesehariannya mengurus sawah dan peternakan yang ada di sebelah rumah panggung. Bersama anak-anaknya, ia merawat beberapa kambing dan domba. Sunenti menjelaskan aturan-aturan menanam padi dan masa panen, mulai dari sawen, mimiti, hingga rujakan, semacam sesajen atau seserahan pada saat masa panen. Menurutnya, semua tradisi di kampung Lembur Sawah diwariskan turun-temurun oleh leluhur. Ia menilai bahwa penting untuk tetap menjalankan ajaran orang tua dahulu agar terhindar dari hal-hal buruk di kemudian hari.

Sunenti juga menceritakan tradisi Ngabungbang pusaka di Kampung Lembur Sawah. Menurut pengetahuannya, saat membasuh pusaka selalu diiringi oleh Jangjawokan, semacam mantra atau doa khusus yang dilantunkan saat proses pembasuhan. Ritual Ngabungbang tidak sekedar membersihkan pusaka, tetapi juga berlanjut pada ritual mandi suci di malam harinya. Setelah pembasuhan selesai, malam harinya pada pukul 12 malam, seluruh masyarakat yang mengikuti Ngabungbang pusaka akan melaksanakan mandi suci yang seharusnya dilakukan di tujuh mata air yang mereka sebut ‘pancuran’. Seperti tradisi lain di Lembur Sawah, Ngabungbang juga diiringi sedekah bumi berupa rujakan atau sesajen sebagai ungkapan syukur. Sunenti menambahkan bahwa dulu Ngabungbang diikuti oleh 30 warga, namun kini jumlah yang ikut sering kali lebih banyak. “Mandi itu harusnya di 7 pancuran, yang nenek tahu pancurannya ada di curug lembur sawah, curug icak, sama curug cigadog. Pokoknya pancurannya yang menghadap ke wetan. Setelah Ngabungbang, warga pasti ramai, mereka iring-iringan buat pergi curug,” jelasnya.

Baik dari Encim maupun Sunenti, mereka berharap tradisi adat di kampung Lembur Sawah tetap dilestarikan. Mereka meyakini bahwa kelanjutan tradisi itu akan mempererat tali kekeluargaan dan keharmonisan warga Lembur Sawah. Dengan mempertahankan tradisi adat, Encim dan Sunenti percaya nilai-nilai bekerja sama, saling menghormati, dan rasa syukur terhadap alam tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Mereka juga melihat pelestarian tradisi sebagai cara menularkan pengetahuan, seperti teknik menanam dan aturan masa panen, tata cara merawat pusaka, hingga etika berbagi hasil panen yang selama ini menjadi sandaran kehidupan bersama.

Selain itu, kegiatan adat sering kali menjadi momen pertemuan yang memperkuat jaringan bantuan antarwarga. Saat ada yang kesulitan, warga akan saling mendukung lewat ikatan yang terjalin melalui tradisi. Meskipun zaman sudah berubah dan generasi muda menghadapi pengaruh modernisasi, Encim dan Sunenti berharap pemuda-pemuda Lembur Sawah tidak memutuskan tradisi adatnya. Misalnya dengan cara melibatkan anak-anak dalam tradisi serta menjelaskan makna dan tujuan, agar warisan budaya Kampung Lembur Sawah dapat terus hidup dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.