menu
Logo Lembur Sawah

MIPIT AMIT NGALA MENTA: TRADISI TALI PARANTI TATANEN MASYARAKAT LEMBUR SAWAH

calendar_today 26 Agustus 2026
person Ratna Nuraeni dan A. Raika F.
MIPIT AMIT NGALA MENTA: TRADISI TALI PARANTI TATANEN  MASYARAKAT LEMBUR SAWAH

(BOGOR)—Ketika warga kampung berkumpul mempersiapkan acara Sidekah Bumi, Pak Karsim dan putrinya, Bu Wati, duduk di teras rumah mereka dengan dikelilingi tanaman hasil panen, Senin (15/6). Hasil panen ini akan digunakan untuk membuat sawen, sebuah alat tolak bala. Sawen adalah salah satu tradisi Tali Paranti yang masih diterapkan di Kampung Lembur Sawah.

Langit cerah dengan sedikit awan, sesekali angin berembus menggoyangkan daun-daun dan pepohonan bambu di depan rumah. Di teras salah satu rumah warga, salah satu sesepuh kampung, Bapak Karsim atau yang akrab disapa Pak Encim (65), sedang duduk diantara tanaman hasil panen. Dengan perlahan ia mengambil beberapa tanaman dan menganyamnya menjadi sawen, salah satu bentuk tradisi tali paranti.

Sawen adalah sebuah alat atau penanda yang terbuat dari bahan-bahan alami, seperti daun hanjuang, bambu kecil, dan tanaman lainnya, yang dibuat sebelum menanam. Sawen dipasang di atas atau depan pintu rumah sebagai bentuk alat permohonan tolak bala (perlindungan) agar tanaman terhindar dari gangguan, hama, maupun hal-hal yang dapat menghambat pertumbuhan padi.


2MbNwAnvi5ovgP568t1ajTaDKIGEnm1wYCANUxSo.jpg

Bentuk Sawen

Wati (38), putri dari Pak Encim, menjelaskan beberapa proses bertani di Lembur Sawah. Ketika akan menanam padi, selain membuat sawen, petani akan menancapkan hanjuang sebagai ciri atau penanda dan sebagai izin untuk “menitipkan” hasil panen pada alam. Ketika panen, ciri itu akan diambil kembali. “Dititipin itu. Kalau sudah hasil, Bapak mipit amit dulu,” tambah Pak Encim.

Tradisi mipit amit adalah proses meminta izin sebelum mengambil hasil panen yang sebelumnya telah “dititipkan” kepada alam. Pada proses ini, dipilih tujuh helai padi terbaik, atau biasa disebut indung padi, yang kemudian dihias menggunakan kain putih dan dirangkai menyerupai sosok perempuan. “Setelah jadi padi yang kita ambil dari sawah, yang disebut mipit amit itu, kita ambil tujuh helai padi, itu dengan kita bawa seserahan ke sawah,” terang Wati. Indung padi yang dipakaikan kain tersebut melambangkan Sanghyang Dewi Sri, yang dalam kepercayaan masyarakat Sunda dikenal sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan sumber kehidupan. “Itu meminta izin mengambil atau menjemput Sanghyang Dewi Sri untuk pulang dari sawah, ke rumah kita, ke pajuaran,” tambahnya.


Rxzl1QtWLapYGyqhvKwt011k1C1k8IJkK5vijSyU.jpg

Indung padi yang dihias menggunakan kain putih

Di dalam ruang pajuaran, tumpukan karung berisi hasil panen terlihat memenuhi ujung ruangan yang cukup kecil ini, menimbulkan suasana yang sedikit pengap dan gerah. Wati mengambil indung padi yang diletakkan di atas sebuah meja, kemudian menjelaskan bahwa setelah panen, masyarakat mengambil tujuh helai padi yang kemudian daun padi itu dibentuk menyerupai rambut sehingga melambangkan sosok perempuan sebagai simbol Sanghyang Dewi Sri, dipakaikan kain putih sehingga menyerupai kerudung dan baju. “Nanti diambilnya tujuh pelai padi, terus diikat rambutnya, katanya daun ini itu menandakan rambut, terus ini kita ikat dengan kain putih dan kanteh, nah itu dipakaikan baju gitu. Terus ini juga ada yang diatasnya itu kerudung lah kalau misalkan diinikan. Jadi sebenarnya ini menandakan seorang perempuan,” jelasnya sambil memegang indung padi yang masih segar.

Indung padi tersebut kemudian disimpan sementara sebelum nantinya diganti pada masa tanam berikutnya. “Cuma kalau untuk yang baru kita simpan dulu, ini sebagai indungnya. Mungkin tahun depan atau karena sekarang mah enggak setahun ya, masa tanamnya itu hanya 3 bulan 10 hari, gitu,” jelasnya.


WhatsApp Image 2026-06-24 at 12.02.26

Tempat menyimpan indung padi dalam goah atau pajuruan

Penyimpanan padi dan beras dilakukan di tempat khusus dengan aturan adat tertentu. Masyarakat tidak diperbolehkan mengambil beras secara langsung dari hari Senin hingga Jumat, sehingga persediaan harus disiapkan terlebih dahulu pada hari sebelumnya. “Kayak ini kan dari Senin, hari Senin gak ngambil dari sini, jadi tuh udah ada di dapur udah disiapkan tuh, di tampah, jadi untuk hari ini gak ngambil dari sini gitu, ngambilnya di tampah, kaya gitu,” jelasnya, masih sambil memegang indung padi. Selain itu, terdapat kebiasaan menyediakan kopi pahit dan kopi manis pada malam Senin dan malam Jumat sebagai bentuk penghormatan kepada Sanghyang Dewi Sri. “Itu suatu kebiasaan, dari sini, dalam pertanian khususnya di menanam padi [untuk] Sanghyang Dewi Sri,” ujarnya.

Melewati tangga berbatu yang curam dan sebagian sudah hancur, sebuah rumah panggung berbahan dasar kayu berdiri dengan kokoh. Suara gemercik sungai dan ayunan pohon bambu yang diterpa angin memberikan suasana sejuk meskipun matahari sedang tinggi di langit. Di teras rumah panggung, seorang wanita tua sedang duduk dengan ditemani beberapa nampan berisi gelas dan air minum kemasan. Kandang kambing yang berada di sebelah rumah panggung ini tidak berhenti mengeluarkan suara mengembik dari kambing-kambing yang dipelihara.


WhatsApp Image 2026-06-24 at 12.47.12

Nenek Sunenti bersama anaknya

Wanita tua itu bernama Sunenti (70). Beliau adalah salah satu warga yang telah lama menetap di Kampung Lembur Sawah. Sehari-harinya beliau mengelola lahan persawahan dan memelihara ternak kambing yang berada di sekitar rumah panggung. Ditemani dengan suara kambing dan beberapa air minum kemasan, Sunenti menjelaskan perihal tradisi menanam padi. Menurutnya, tradisi yang diwariskan oleh leluhur harus terus dipertahankan sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus sebagai cara menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Matahari yang tadinya berada di tengah langit semakin condong ke barat saat Sunenti menjelaskan proses bercocok tanam. Beliau mengatakan bahwa terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum menanam padi. Salah satunya adalah membuat pupuhunan, sebuah rangkaian yang terdiri atas daun jawer kotok, hanjuang, dan pucuk daun salak yang kemudian disatukan, diikat, dan diletakkan di area persawahan.

“Ketika akan menanam padi, masyarakat membuat pupuhunan yang berisi jawer kotok, hanjuang, dan pucuk daun salak. Semua itu disatukan, lalu disimpan di sawah,” jelasnya dalam bahasa Sunda. Selain itu, beliau juga menjelaskan sebuah ungkapan berbahasa Sunda, “Mipit amit ngala menta, nenden samperen nunda alaen”. Ungkapan tersebut berarti masyarakat menitipkan padi kepada alam dan Tuhan untuk dijaga bersama hingga tiba masa panen.

Ketika padi sudah tumbuh dan panen, hasilnya akan diambil kembali sebagai bentuk rezeki yang telah dijaga bersama. Sunenti juga menjelaskan bahwa ketika masa panen tiba, masyarakat akan menyiapkan berbagai perlengkapan yang menjadi bagian dari tradisi ini. Perlengkapan ini terdiri dari: rujakan (sesajen), kopi pahit, kopi manis, tangtang angin (beras yang dibungkus daun tamiang atau daun pisang), papais (kue basah Sunda), sangu ketan (nasi ketan), kupat, seupan tales (talas rebus), hui boled (ubi jalar), gula beureum (gula merah), tiwu (tebu), boboreh (minyak wangi), wedak (bedak), sisir, enteng (cermin), dan lawon bodas (kain putih).

Ketika padi sudah tumbuh dan panen, hasilnya akan diambil kembali sebagai bentuk rezeki yang telah dijaga bersama. Sunenti juga menjelaskan bahwa ketika masa panen tiba, masyarakat akan menyiapkan berbagai perlengkapan yang menjadi bagian dari tradisi ini. Perlengkapan ini terdiri dari: rujakan (sesajen), kopi pahit, kopi manis, tangtang angin (beras yang dibungkus daun tamiang atau daun pisang), papais (kue basah Sunda), sangu ketan (nasi ketan), kupat, seupan tales (talas rebus), hui boled (ubi jalar), gula beureum (gula merah), tiwu (tebu), boboreh (minyak wangi), wedak (bedak), sisir, enteng (cermin), dan lawon bodas (kain putih).

Matahari semakin condong ke barat, menandakan waktu yang semakin sore. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Kampung Lembur Sawah masih memegang erat Tali Paranti Tatanen yang diwariskan leluhur mereka. Masyarakat Kampung Lembur Sawah memegang prinsip bahwa segala sesuatu berasal dari alam, dimanfaatkan untuk kehidupan manusia, dan pada akhirnya akan kembali lagi kepada alam. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lingkungan menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.