menu
Logo Lembur Sawah

Lesung Tua Berbunyi di Sedekah Bumi

calendar_today 26 Agustus 2026
person Shifa Salsabila Az Zahwa dan Cahaya Putra Rangkuti
Lesung Tua Berbunyi di Sedekah Bumi

(Bogor, 15/06/2026) Bunyi dug-dug-dug halu yang menghantam lesung tua itu  hanya terdengar setahun sekali di Kampung Lembur Sawah—saat Sedekah Bumi tiba dan  benda yang sudah seratus tahun lebih itu kembali punya alasan untuk dikeluarkan.

Kampung yang terletak di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan,  Kota Bogor ini menyimpan salah satu destinasi wisata yang tak banyak orang tahu. Kami  berhenti di lokasi yang dikenal warga sebagai Saung Eling. Terdapat bangunan-bangunan  bambu yang berdiri tenang di antara rindangnya pepohonan menciptakan suasana yang  asri.

Selain menjadi tempat wisata, saung ini menjadi tempat berkumpul warga yang  sibuk mempersiapkan acara Sedekah Bumi. Tawa anak-anak saat berlatih tari, percakapan  para ibu, dan suara langkah yang hilir mudik membawa perlengkapan, semua bercampur  menjadi satu kesibukan yang hangat.

dyLrKDgL7JMZzkJSO41AyKcQoSL26ye0sDQeaRPk.png

Lesung yang diletakkan di  depan Saung Eling. 


Di tengah kesibukan itu, sebuah benda besar berbentuk lonjong tergeletak di depan saung eling. Cokelat kehitaman, permukaannya penuh goresan dan sudah tidak mulus lagi, menandakan benda ini telah melewati waktu yang sangat panjang. Itulah lesung, benda yang dulu tak pernah absen dari keseharian dapur rumah tangga masyarakat Lembur Sawah, kini hadir kembali ke panggung perayaan.

Satu hari sebelum acara sedekah bumi digelar, kami menghampiri Karsim—pria 65 tahun yang akrab disapa Encim—ditemui di rumahnya yang teduh, tidak jauh dari Saung Eling.

pbuTgVwOARRP2HZadricTZf4u77N9tRA5kOUQHek.png

Encim saat ditemui di  rumahnya. Ia tengah membuat  sawen.

Saat kami hampiri, ia tengah membuat sawen, semacam jimat pelindung yang  ditancapkan di sawah sebagai tanda bahwa lahan itu sudah "dititipkan" kepada leluhur  sebelum masa tanam dimulai. Jari-jarinya yang keriput bergerak tenang menyusun  dedaunan dan bahan-bahan ritual. Sebagai sesepuh kampung, Encim adalah salah satu  dari sedikit orang yang masih hafal seluruh rangkaian adat yang menghidupi Lembur  Sawah.

Lesung yang ada di kampung ini tidak dibuat dengan sembarang jenis kayu.  Bentuk lesung memanjang seperti perahu kecil yang dipahat dari batang pohon utuh— bagian tengahnya berlubang dalam, tempat padi ditumbuk berulang kali hingga terlepas  dari kulitnya. Permukaannya licin di sisi dalam karena gesekan halu—tongkat kayu  panjang yang digunakan untuk menumbuk—selama bertahun-tahun. Sisi luarnya kasar,  berwarna gelap kecokelatan menggambarkan umur yang panjang. Lesung yang paling

awet dibuat dari kayu pohon nangka: seratnya padat, tidak mudah lapuk meski berkali kali kena air dan udara. Beberapa warga juga pernah punya lesung dari kayu pohon  rambutan, meski kualitasnya tidak sekuat nangka. Di bagian ujung-ujungnya, kadang  masih terlihat bekas pahat tangan yang tak sempurna—tanda bahwa benda ini lahir dari  keterampilan manusia, bukan mesin.

Menurut Encim, lesung yang ada di Kampung Lembur Sawah ini sudah berumur  lebih dari seratus tahun. Sejak ia kecil, benda itu sudah ada. Sebelum lesung-lesung ini,  konon dahulu ada lesung yang usianya sampai dua ratus tahun, namun kini sudah tidak  ada lagi—habis dimakan zaman, tidak terawat, lalu rusak.

"Lesung yang sampai dua ratus tahun itu memang dari zaman dulu sekali, tapi  sekarang lesung itu sudah tidak ada. Yang ada sekarang kira-kira sudah seratus tahun  lebih, dari saya kecil sudah ada di kampung ini," tutur Encim.


tl2JDidfW4TmU58tKFM9FQ3kvRj8EJn6sprdp5ci.png

Gambar Wati saat ditemui di rumahnya.

Wati (36), tokoh masyarakat yang juga warga setempat, menambahkan bahwa  dulu banyak nenek-nenek di kampung yang punya lesung sendiri. Ia masih ingat ada  seorang nenek yang lesungnya terbuat dari kayu pohon rambutan. Tapi satu per satu  lesung itu menghilang—lapuk karena tidak dirawat, dimakan rayap, atau sekadar  terlupakan oleh generasi berikutnya yang tidak merasa perlu menjaganya.

"Kalau dijaga dengan baik, lesung bisa tahan sampai dua ratus tahun. Tapi ya  itu—banyak yang hilang karena tidak diurus sama anak-anak yang punya, generasi  selanjutnya tidak peduli," kata Wati.

Dulu, lesung bukan benda yang hanya dikeluarkan saat ada acara besar saja seperti  Sedekah Bumi. Ia adalah bagian dari rutinitas harian. Setiap hari, padi ditumbuk untuk  dijadikan beras, bahan makanan pokok yang tidak bisa digantikan. Mamay (70),  sejarawan dan sesepuh kampung yang sudah lama menjadi penjaga ingatan budaya  Lembur Sawah, adalah salah satu narasumber yang paling tahu soal sejarah lesung di sini.  Ia mengisahkan bahwa masa terakhir padi ditumbuk dengan lesung adalah zaman  generasi Mamay sendiri. Setelah itu, penggilingan padi mulai masuk kampung,  penggilingan padi dianggap lebih praktis, lebih cepat, dan anak-anak muda tidak mau lagi  berurusan dengan cara yang dianggap merepotkan.

"Anak zaman sekarang nggak mau ribet. Jadi padi nggak ditumbuk, cuma digiling  aja. Terakhir zaman Mamay yang masih numbuk padi," kenang Mamay.

Bagi yang belum pernah melihat prosesnya, menumbuk padi bukan sekadar  memukul-mukul biji padi di dalam lubang kayu. Ada tahapan dan alatnya sendiri. Wati  menjelaskan bahwa dalam proses pengolahan padi menjadi beras secara tradisional,  digunakan dua alat utama: lesung dan keblek. Tahapannya dimulai dari menumbuk padi  di lesung menggunakan halu hingga menjadi setengah beras. Baru kemudian dipindahkan  ke keblek untuk proses selanjutnya.

Kini, keblek dan lesung yang tersisa di kampung nyaris tidak terpakai. Encim  menyebutkan bahwa di bawah rumah kampung, masih ada satu lesung dan satu keblek— tapi keduanya sudah alih fungsi. Karena rumah-rumah di sini adalah rumah panggung, lesung itu kini dijadikan golodog—anak tangga untuk naik ke pintu rumah. Benda yang  dulunya menghasilkan beras, kini beralih fungsi menjadi anak tangga.

Meski sudah tidak lagi jadi alat memasak harian, lesung tidak benar-benar  pensiun. Setiap tahun, saat ada acara hajatan dan Sedekah Bumi tiba, ia kembali  dikeluarkan dan dipergunakan untuk pembukaan acara yang disebut tutunggulan.

Mamay menceritakan bahwa pada hari-H acara Sedekah Bumi, ibu-ibu dan  nenek-nenek hadir dengan kebaya dan kain yang dililitkan di belakang kepala. Mereka  berkumpul mengelilingi lesung, lalu mulai menumbuk bersama-sama dalam irama yang  kompak. Bunyi dug-dug-dug yang saling bersahutan itulah yang disebut tutunggulan— hanya suara kayu bertemu kayu dan bagi warga Lembur Sawah, bunyi itu sudah cukup  sebagai tanda bahwa acara dimulai.

rFskIt5m8HJiNaEdtV4dl660UxyJ5WimRbl6LN14.png
Tutunggulan sebagai pembuka acara sedekah bumi.

"Di Lembur Sawah disebutnya ngangkat. Jadi sebelum acara dimulai, tutunggulan  dulu. Itu ciri khasnya," jelas Mamay.

Ada aturan tak tertulis soal siapa yang boleh memegang halu saat tutunggulan.  Menurut Mamay, yang diperbolehkan adalah emak-emak dan nenek-nenek. Perempuan  muda pun boleh ikut, asal untuk belajar. Namun ada mitos turun-temurun yang masih  dipegang: perempuan yang belum menopause dianggap belum "bersih", sementara yang  sudah tua dianggap sudah bersih kembali, seperti anak-anak.

"Yang sudah tua sudah bersih lagi seperti anak-anak. Yang masih muda masih  kotor, masih menstruasi," tutur Mamay dengan nada datar, seperti menyampaikan sesuatu  yang sudah lama ia tahu dan tidak perlu diperdebatkan.

Selain soal tutunggulan, ada satu larangan yang berlaku dalam seluruh rangkaian  urusan padi—bukan hanya saat menumbuk. Encim menjelaskan bahwa hari Senin dan  Jumat adalah hari pantang, tidak boleh mengambil padi, tidak boleh menjemur padi, dan  tidak boleh menumbuk padi. Larangan ini berkaitan dengan penghormatan kepada yang  disebut Nyai Sri—sebutan untuk roh atau jiwa yang dipercaya menghidupi padi.

"Nyai Sri itu sebutan untuk jenis padi. Ada dua belas jenis padi. Disebut Nyai Sri  karena artinya sumber kehidupan. Kalau tidak ada padi, kita tidak bisa makan, karena  makanan pokok kita nasi," terang Encim. Dua belas jenis padi itu punya nama masing masing—Paregede, Parejambu, Gebang, Paregempol, di antara yang Encim masih ingat.  Setiap nama membawa ciri dan ceritanya sendiri, warisan dari generasi yang sudah lebih  dulu pergi. Kini, tidak banyak yang tahu nama-nama itu, apalagi bisa membedakannya di  ladang.

Bukan berarti warga tidak boleh memasak di hari Senin dan Jumat. Tapi berasnya  harus sudah disiapkan dari hari-hari sebelumnya dan disimpan di boboko—wadah  anyaman bambu untuk menampung beras—sehingga pada hari pantang, tidak ada  aktivitas yang berhubungan langsung dengan padi yang perlu dilakukan.

Hal lain yang masih dipertahankan adalah kebiasaan berpamitan—kepada padi,  kepada sawah, kepada "yang menjaga". Dalam budaya Sunda, ada yang disebut  jangjawakan: doa yang dibacakan saat hendak mengambil beras. Doa untuk memasak  berbeda, doa untuk mencuci beras berbeda lagi. Setiap tindakan punya doanya sendiri.

Ada juga Sampurasun Rampes—ucapan yang disampaikan saat datang ke suatu  tempat, sebagai bentuk terima kasih atas hasil yang sudah diambil. Dalam budaya Sunda,  mengucapkan Sampurasun setara dengan mengucapkan Assalamualaikum atau sekadar  permisi ketika memasuki ruang orang lain.

"Harus pamit. Kalau di Sunda disebutnya jangjawakan, itu doa untuk ngambil  beras. Tapi doa untuk masak beda, nyuci beda, jadi ada doa berbeda tiap melakukannya,"  jelas Encim.

Penghormatan serupa juga berlaku saat pergi ke sawah. Wati dan Mamay  menjelaskan bahwa hingga kini, beberapa warga Lembur Sawah masih menjalankan  tahapan adat saat akan menanam dan memanen padi. Sebelum menanam, dibuat sawen— penanda bahwa padi yang akan ditanam sudah "dititipkan" kepada nini aki pakebonan,  sebutan untuk leluhur atau penjaga ladang.

Saat panen tiba, proses itu tidak bisa langsung begitu saja. Ada yang disebut nitip  amit—meminta izin kepada yang dititipi untuk mengambil hasil panen. Yang pertama  diambil adalah indung: beberapa helai padi yang diambil dari sawah sebagai simbol  bahwa seluruh hasil panen siap dibawa pulang. Sebelum itu, harus ada seserahan kopi  hitam, susu, dan perlengkapan lainnya sebagai bentuk penghormatan.

"Yang pertama naruh berarti kita nitip, lalu saat ngambil hasil panen untuk dibawa  pulang juga harus pamit. Disebutnya nitip amit—minta izin kepada yang kita titipkan  untuk ngambil indung," jelas Wati.

Ada pula satu cerita yang beredar di antara warga soal lesung—bahwa dahulu  benda ini harus diangkat oleh dua puluh orang. Wati mengaku tidak terlalu tahu asal-usul  mitos itu, namun ia punya penjelasan yang masuk akal, lesung dibuat dari batang pohon  besar yang dipotong dan dipahat langsung, sehingga ukurannya memang bisa sangat  panjang dan sangat berat. Wajar jika butuh banyak orang untuk memindahkannya.

"Mungkin karena panjang dan berat. Kayu pohonnya itu besar, jadi memang harus  ramai-ramai," kata Wati.

Dulu, soal memindahkan lesung sebenarnya bukan masalah besar karena setiap  rumah punya lesungnya sendiri. Tidak perlu pindah-pindah. Dan masing-masing rumah  juga tahu cara merawatnya. Lesung disimpan di tempat yang terlindung dari hujan dan  sinar matahari langsung, cara yang disebut awisan. Dengan cara itu, lesung terlindung  dari rayap dan tidak cepat lapuk.

Kini, lesung tidak lagi hadir di setiap rumah. Yang tersisa hanya sedikit dan hanya  satu yang masih dirawat dan dikeluarkan saat ada acara. Bagi Encim, Mamay, dan Wati,  kondisi ini bukan sekadar soal benda kayu yang menghilang. Ia adalah cermin dari  sesuatu yang lebih besar: pengetahuan yang perlahan memudar, tradisi yang kian jarang  disentuh.

Wati berbicara dengan nada yang lebih tajam soal tantangan yang mereka hadapi.  Dari luar, tantangannya adalah ketidakpedulian—banyak orang yang tidak tahu, dan lebih  banyak lagi yang tidak mau tahu. Tapi dari dalam, tantangannya justru lebih berat.

"Tantangan terbesar itu di diri sendiri. Kalau kita melakukan adat istiadat kan  ribet, nyari-nyari keperluan buat persiapannya, dan sedikitnya pengetahuan soal  rangkaian adat istiadatnya. Jadi ya pada malas," kata Wati, sambil tertawa kecil yang  terasa pahit.

Di balik semua keresahan itu, ada harapan yang tidak padam. Wati berharap,  dengan terus digelarnya acara seperti Sedekah Bumi, kesadaran itu bisa menjangkau lebih  jauh bukan hanya warga Lembur Sawah, tapi siapa pun yang menyaksikan.

"Harapannya ke depannya anak-anak bisa tahu dan bisa ikut melestarikan budaya  kita di sini. Kalau bukan kita yang muda dan jaga, lestarikan, siapa lagi? Bukankah  Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika dengan berbagai macam kebudayaan? Kalau  misalnya budaya orang Sunda kita tinggalkan, apakah akan disebut Bhinneka Tunggal  Ika lagi?" ujar Wati.

Encim dan Mamay mengangguk pelan. Tidak perlu banyak kata. Bagi mereka  yang sudah hidup puluhan tahun bersama tradisi ini, yang tahu bau tanah sawah setelah  hujan, yang hafal irama halu di atas lesung—jawabannya sudah lama mereka tahu.

Lesung tua itu tidak punya suara. Tapi setiap kali ia dikeluarkan, setiap kali halu kembali menggenggamnya dan tutunggulan bergema di antara pohon-pohon Lembur  Sawah, ada sesuatu yang terasa hidup kembali. Sesuatu yang tidak bisa digiling oleh  mesin mana pun.